Aku Harus Kuat ! (Part 1: My Semarang Family)

Well, hampir seminggu aku tinggal di Semarang. Pa’Is sama Dida cuma bisa nemenin jalan-jalan 5 harian dan sisanya yang kurang lebih masih sebulanan lagi mesti aku jalanin sendiri *lebih tepatnya sama si Emy sih*
Cukup banyak hal yang aku dapat selama di Semarang, terutama pembelajaran sebuah kehidupan. Tentang keluarga besarku yang di Semarang dan bagaimana perjuangan mereka hingga seperti sekarang, tentang kerasnya kehidupan di sebuah kota besar, atau tentang kawan-kawan baruku dan caraku beradaptasi dengan mereka.
Aku sungguh beruntung terlahir di sebuah keluarga besar :) baik dari mamii atau pa’is mempunyai keluarga besar dan ada di mana-mana. Kalau  Mami mempunyai keluarga besar yang tersebar di Kalimantan, sedang Pa’Is di Jawa. Dan *emang jodoh kali ya ?* kedua keluarga besar itu berpusat di Kalimantan Tengah *keluarga pihak mamii* juga Jawa Tengah *keluaga dari pihak Pa’Is*
Aku lahir dan tumbuh besar di Pangkalan Bun, Kotawaringin Barat *salah satu kabupaten di Kalimantan Tengah* dan memang di sanalah aku dan keluargaku menjalani kehidupan rumah tangga. Sedari dulu memang sudah direncanakan aku akan meneruskan sekolahku di Semarang, dan salah satu impianku adalah masuk Universitas Dipenegoro
Dan di sini lah aku sekarang, Semarang :) Aku bersama Emmy tinggal dengan 2 Mbahku (Mbah Nah dan Mbah Ni) yang usut punya usut merupakan orang paling sepuh di daerah situ :) dan Bude ku nan tomboy (De’Is)

Mbah Nah adalah nenek kandungku :) sudah pasti ia adalah ibu dari Pa’Is. Hampir memasuki usia 80 tahun, alhamdulillah ia masih kuat untuk beraktivitas sendiri. Masih kuat untuk berjalan kaki ke pasar / pengajian, terkadang suka datang ke kamarku dan nongkrong di situ ngajak curhat bareng x) Beliau cerita segala apa yang pernah beliau alami dan keluarganya alami di masa lalu. Walau terkadang aku nggak ngeh *karena pakai bahasa jawa* aku bisa merasakannya lewat imajiku, dan kalau Mbah Nah sadar aku nggak ngerti apa yang beliau ceritakan maka, beliau cepat-cepat mentranslate ke bahasa indo :) Sedang Mbah Ni adalah adiknya Mbah Nah, entah mengapa ia lebih betah tinggal bersama Mbah Nah dibanding dengan anak / cucunya. Mbah Nah & Mbah Ni adalah penggemar berat sinetronnya Nikita Willy aka Amira.
Kalau De’Is adalah kakak tertuanya Pa’Is, sosoknya yang tambun tapi selalu ceria ini yang selalu menemani Mbah Nah,  rela bolak-balik siang/malam untuk ngurus suami (Pa’De Man), Mbah Nah, atau Bule Tin dan anak-anaknya (Rio, Farkhan, Farah)
Oiya, ada lagi namanya Mbah Tun. Beliau yang sering bantu-bantu Mbah Nah & Mbah Ni. Setiap pagi Mbah Tun datang hingga selesai melakukan tugasnya.
Dan dari mereka, aku belajar banyak tentang kehidupan.

Share:

0 komentar

Please kindly leave your comment with your ID