.jpg) |
| Di depan rumah dinas kami |
Membahas
megenai mimpi, saya adalah salah satu anak yang beruntung karena kedua orang
tua saya mengajarkan bermimpi sedari kecil.
Bukan mimpi yang sekedar bunga tidur, atau mimpi-mimpi pengharapan
sepintas lalu. Namun, mimpi-mimpi yang dengan kami memilikinya, maka kami akan
hidup lebih bersemangat.
Tahun 1999,
saya masih ingat sekali. Bapak masih mengantar jemput saya dengan motor dinas
keluaran tahun 70-an, selepas beliau pulang kantor. Bapak selalu bercerita
mengenai mimpinya untuk mempunyai motor pribadi, agar motor dinasnya hanya
digunakan untuk kegiatan kantornya saja. Menurut Bapak, motor dinas yang
digunakan selain untuk urusan kantor itu sama saja dengan korupsi.
Lain
lagi dengan Ibu. Ibu bukan ibu rumah tangga, sama seperti Bapak, Ibu seorang
PNS (Pegawai Negeri Sipil). Walaupun PNS, Ibu tak pernah melupakan kewajibannya
sebagai ibu rumah tangga yang mengurusi rumah dan keluarga. Pada akhir pekan,
di sela-sela kerja bakti membersihkan rumah dinas yang kami tempati, Ibu selalu
menyelipkan candaan—yang saya tahu kalau itu adalah mimpi Ibu— kalau rumah
dinas ini terlalu mudah untuk dibersihkan dan berharap ada rumah lebih besar
yang bisa dibersihkan.
Sampai
pada suatu waktu, mimpi di keluarga kami mulai terwujud satu persatu. Tentu
saja bukan tanpa perjuangan mimpi itu terwujud. Lulus dengan gelar sarjana
menyambi bekerja sebagai PNS, membuat Bapak dipercaya untuk memegang jabatan
yang lebih tinggi. Tak heran pundi-pundi ekonomi keluarga kami bertambah, maka
bapak memutuskan untuk membeli vespa bekas dari temannya. Saya senang sekali
menaiki vespa yang bunyinya berbeda dari motor kebanyakan.
Aku memutuskan untuk kembali ke Semarang lebih cepat, rencananya aku ingin berkontribusi di acara PMB 2013, maka ku pesan lah tiket ke Semarang tanggal 22 Agustus, padahal masih tersisa libur sekitar 2 mingguan, jelang semester 5.
Dahulu sekali aku pernah bercerita tentang keluarga kecil ku di Semarang bukan ? Mbah Nah, Mbah Ni, Bude Is, dan Mbah Tun yang biasa ku kunjungi tiap libur kuliah. Akhir ramadan, berita duka datang via telepon oleh Bulik Tinah. Mbah Ni meninggal (Adik Mbah Nah) karena H-1 lebaran, maka almarhumah dimakamkan hari itu juga. Pak Is pun memutuskan hanya mendoakan dari Pangkalan Bun karena tidak memungkinkan untuk ke Semarang.
Usiaku masih 6 tahun, dan aku
sudah akan mempunyai adik ke-2
Menurut cerita, kelahiran adikku
ini agak berbeda dari kelahiran ku atau pun adik pertamaku, spesial J Setiap pulang sekolah
(kala itu aku TK) aku akan berjalan kaki dari sekolahku menuju rumah bersalin
di mana Mamii menginap.
Tepat 12 Mei 1999, adikku
dilahirkan. Perempuan lagi, namanya Sahara Sa’adilah Isri maka semakin lengkaplah
keluarga kami.
Yaaaaaah nggak kerasa nih libur semesteran udah berakhir -_- saatnya kembali menyambut hari - hari indah di sekolah *maksa* Huhuhuhuhu itu mungkin kalimat yang aku ucapkan di tahun - tahun lalu waktu masih SMA.
Sekarang ? Aku cuma bisa menatap nanar dari kejauhan *lebay kumat !* 2 adikku dan para adik kelas, dengan buku baru, seragam baru, sekolah baru bagi yang pada lulus dari sekolah terdahulunya, ngeMOS murid baru bagi senior OSIS, cari gebetan baru bagi para playboy/playgirl, nongkrong bareng / kangen-kangenan sama temen, tuker cindramata oleh-oleh liburan, dsb. Ya, paling nggak ada satu hal yang bikin aku seneng yaitu, liburan mereka telah berakhir ! *ketawa ala yakuza* tapi itupun ada beberapa dari mereka yang memang merindukan sekolah -_- baru juga libur 2 minggu ! udah kangen sekolah ? gimana aku yang libur lebih dari 4 bulan ini *derita pengangguran sementara* Oke, lepas dari itu, ada sedikit cerita tentang kesibukan keluargaku di awal semester baru ini, cekidot !
Tahun 2011 ini adalah tahun yang cukup menegangkan untuk keluargaku *jengjengjeng* secara ! 3 puteri di masing - masing tingkatan ada di tahun terakhir sekolah *aku 12 SMA, Miss Jiplak 9 SMP, dan Miss Troublemaker 6 SD* Alhamdulillah kami lulus semua dan masuk di sekolah favorit masing - masing. *Sekarang fokus cerita pada kedua adikku, karena ceritaku dengan semester barunya masih 1 bulan lagi !*
Malam sebelum semester baru dimulai, mereka sibuk mempersiapkan untuk MOS besok, dengan berbagai macam bawaan yang aneh - aneh *kerjaan rese senior OSIS* Contohnya si Miss Troublemaker disuruh bawa selai arachis hypogea, roti tawar, jeruk, topi karton yang disampul koran dengan tali rafia hitam, papan nama segede gaban, pita kuning, belum lagi tanaman-tanamn gak jelas lainnya! ya ampunnn ! Dan dapat dipastikan ! ujung-ujungnya pasti selalu aku yang rempong *repot.read*
Benar saja ! Malamnya ... aku nemenin Mamii nyari itu benda-benda keliling Pangkalan Bun ! Ternyata nggak semudah belanja seperti biasanya, karena malam ini orang-orang sibuk berbelanja keperluan semester baru ataupun benda-benda aneh MOS.
Yeah ! 18 Tahun
~ statusku sudah resmi mahasiswa ! kurang kece apa lagi coba ?
Beruntung 18
tahun masih bisa aku rayakan di Pangkalan Bun :” setelah sebelumnya ngebet
banget pulang dari Semarang dengan segala persiapan tetek bengek daftar ulang
menjadi mahasiswa.
Jadi, 5 Juni
2011 jatuh tepat di hari Minggu. Karena banyak kawanku mengurus kehidupan
barunya menjadi mahasiswa. Aku merayakan awal 18 tahun ku ini dengan keluargaku
tercinta : Mami, Pak Is, Dida, Aya :-*
Berbeda jauh
dari tahun kemarin, karena aku mengawali tahun ke 17-ku -agak dirayain walau
sederhana-, tahun ke-18 ku ini hanya makan siang manis bersama keluargaku di
salah satu rumah makan di Pangkalan Bun, yap ! Ruhama
Awalnya aku
bersama Mamii berangkat duluan naik motor, sampai di sana disusul Pak Is tetapi,
setelah menunggu agak lama kedua adikku tak kunjung datang. Pak Is mulai siaga
satu 2 anak gadisnya belum sampai di TKP. Di telepon nggak diangkat, sms pun nggak
dibalas
Tiba-tiba ...
Mereka datang
dengan membawa cake dengan 2 lilin bertuliskan
18 *kayanya kabur ke Borneo dulu itu
bocah berdua* Dan ternyata adegan siaga 1 itu semuanya akting belaka
-_____- dan aku satu-satunya yang nggak tahu hehe :-*
Setelah perayaan kecil itu kami menyantap makanan dengan beribu-ribu syukur, terlebih karena kami masih bisa bersama :” semoga tahun depan dan tahun-tahun berikutnya kami masih bisa menikmati kebersamaan ini J
 |
| Mamii, Mima, Pak Is |
 |
| Miss Troublmaker, Me, Miss Jiplak |
Well, hampir seminggu aku tinggal di Semarang. Pa’Is sama Dida cuma bisa nemenin jalan-jalan 5 harian dan sisanya yang kurang lebih masih sebulanan lagi mesti aku jalanin sendiri *lebih tepatnya sama si Emy sih*
Cukup banyak hal yang aku dapat selama di Semarang, terutama pembelajaran sebuah kehidupan. Tentang keluarga besarku yang di Semarang dan bagaimana perjuangan mereka hingga seperti sekarang, tentang kerasnya kehidupan di sebuah kota besar, atau tentang kawan-kawan baruku dan caraku beradaptasi dengan mereka.
Aku sungguh beruntung terlahir di sebuah keluarga besar :) baik dari mamii atau pa’is mempunyai keluarga besar dan ada di mana-mana. Kalau Mami mempunyai keluarga besar yang tersebar di Kalimantan, sedang Pa’Is di Jawa. Dan *emang jodoh kali ya ?* kedua keluarga besar itu berpusat di Kalimantan Tengah *keluarga pihak mamii* juga Jawa Tengah *keluaga dari pihak Pa’Is*
Aku lahir dan tumbuh besar di Pangkalan Bun, Kotawaringin Barat *salah satu kabupaten di Kalimantan Tengah* dan memang di sanalah aku dan keluargaku menjalani kehidupan rumah tangga. Sedari dulu memang sudah direncanakan aku akan meneruskan sekolahku di Semarang, dan salah satu impianku adalah masuk Universitas Dipenegoro
Dan di sini lah aku sekarang, Semarang :) Aku bersama Emmy tinggal dengan 2 Mbahku (Mbah Nah dan Mbah Ni) yang usut punya usut merupakan orang paling sepuh di daerah situ :) dan Bude ku nan tomboy (De’Is)
Sehari setelah US (Ulangan Semester) dan sehari setelah ditinggal mamii & Pa'Is, aku dimintai tolong sama tetanggaku (di rumah ku yang dulu) untuk jadi penerima tamu di acara sunatan anaknya, maka jadilah aku bolos sekolah (izin langsung lewat wali kelas tanpa surat) *sekalian makan gratis kan*
Jam 9 teng, aku sudah standby di rumah tetangga, tinggal tunggu didandani. 2 anak sok innocent aka Miss Copycat & Miss Troublemaker tetep sekolah dan aku suruh mereka datang ke acara sunatan itu nanti pas jam makan siang *ketahuan banget numpang makan doang*
Singkat cerita acara pun kelar jam 17.30. Nah, aku kira tuh yaa bakal dibungkusin makanan sama salam tempelen atau apa gitu xD. Eeeh nyatanya cuma dibungkusin kue-kue doang :p *dikasih hati minta jantung!* Ya sudahlah daripada nggak dapat apa - apa sama sekali *syukurmode:on*
Nah, pulang ke rumah aku bingung. Masalahnya aku belum masak apa - apa, beli sayur nggak, masak lauk nggak juga, nanak nasi apalagi ! Lha buat makan malam, itu 2 anak sok innocent mau dikasih makan apa ? *seandainya beling itu bukan hanya makanan bagi orang kesurupan #PLAKK!*
Setelah kompromi dengan 2 anak sok innocent itu, kami sepakat makan di luar bertiga untuk pertama kalinya semenjak ditinggal mamii & Pa'Is *YAY!* tetapi karena nggak mau rugi aka nggak mau ngeluarin duit banyak, kami pun menerapkan suatu strategi yang lumayan licik *tapi tetep halal la yaw !*
Maka jadilah malam itu kami ke sebuah RM (Rumah Makan) yang lumayan laris di Pangkalan Bun. Hehehehe akal bulus nan licik pun mulai diterapkan xD. Kami memesan hidangan yang harganya lumayan xD tapi untuk setengah porsi doang. Maksudnya kami pesan 3 hidangan dalam porsi setengah. Jadi, biaya yang dikeluarkan bisa sangat hemat *hemat atau kikir ?*
Ditengah menunggu hidangan datang, aku nggak sengaja liat teman Pa'Is lewat di sampingku (kayanya baru pesan), iseng saja ku tegur. Kira-kira gini dialognya
Aku = Meema
Oom Temen Pa'Is = OTPI
OTPI melenggang bersama anaknya
Meema : Om .. *sumringah smile*
OTPI : ehh kalian *meliat aku & 2 anak sok Innocent* bertiga aja ya?
Meema : iya, Om ! Papa sama Mama kan masih di Bandung
OTPI : oh iya *senyum terus langsung kembali ke tempat duduk bareng anaknya dan balik lagi ke tempat order kemudian ke kasir*
makanan datang
Meema : *feeling not good*
Deeda (Miss Copycat) : Mbak ... jangan - jangan kita dibayarin ?
Meema : Sssst ! nggak mungkin !
si OTPI balik lagi ke mejanya melewati meja kami
OTPI : Makan yang banyak ya *bright smile*
Deeda : Ishh ! tahu gitu tadi pesen banyak - banyak deh ! *mengudak makanannya*
Meema : Husst ! memang dibayarin ?
Deeda : *diam*
Setelah blablabla makanan sudah ludes xD siap membayar ke kasir
Meema : *berdiri terus menuju kasir*
OTPI : nggak usah, meem !
Meema, Deeda, Aya : *noleh* eeh ?
OTPI : sudah ... pulang aja ! sudah malam :)
Meema, Deeda, Aya : Ooo .. *beberapa detik baru NGEH!* aaa makasih, Om ! Terimakasih ya :)
OTPI : Iya .. hati - hati ya :)
Meema, Deeda, Aya : Iya .. *si anak OTPI ngeliatin kami gimana gitu*
Dan akhirnya 3 gadis itu pulang bukan dengan bersyukur sudah dibayarin melainkan malah merutuk karena nggak pesen banyak, 1 porsi pun nggak sampai xD