 |
| Langit sore kala itu |
Oh, if I have chance to choose
what kind of weird job I can applied, definitely a Skies Spy !
I will observing you 24/7 from
the sky
No matter how far you are
travelling, I will forever be with you
I will happily watching you
climbing your favorite mountain or sunbathing in the beautiful beach.
Someday when you look up the sky
and realize my existence, I promise you there wouldn’t gloomy day as long as I
am the Skies Spy
 |
| Keep it simple and drink cofee :) |
No, this post is not about me spilled some sweet memory like tea.
It is about coffee.
Dark, bitter, but will shoot you some energy boosters.
It is dark, because there is no future for me being with you
It is bitter, because you don’t know anything about the
truth
But, here I am bored with life, then thinking about you, and
suddenly everything change
Like coffee, you give me faith to living the life.
Full of
energy :)
Jika dulu aku suka cerita kita dianalogikan dengan dua titik pada garis sejajar yang bersama melangkah maju, maka dengan banyak hal yang tak tersampaikan, dua titik sejajar itu tak lagi maju bersama.
Salah satu titik mundur perlahan hingga keduanya malah berlawanan arah, menciptakan jarak yang entah hanya kuasa tuhan yang dapat kembali mempertemukannya.
Ada banyak penjelasan yang belum tersampaikan. Aku tahu, kau pun lebih dari sekedar tahu, tetapi tak satupun dari kita menjelaskannya.
Aku hanya takut pengharapan dari penjelasan-penjelasan itu. Maka, hanya suatu jarak yang dapat menguji besarnya pengharapan tanpa harus memaksakan penjelasan. Seberapa jauh pengharapan-pengharapan itu akan bertahan bila tercipta suatu jarak ?
Dan ... aku memilih berjarak denganmu. Menguji pengharapan dengan intervalnya. Jika pengharapan itu menguap begitu saja, kalah dengan jarak, semoga aku dan kau bisa tetap berjalan layaknya titik pada garis masing-masing.
Toh, masih ada Tuhan yang dengan kuasanya bisa mempertemukan garis-garis yang bahkan tidak saling sejajar
“Muhammad Raesard Riza” ku ketikan nama itu di kolom pencarian. Enter !
Maka seketika keluarlah beberapa akun yang mempunyai nama hampir serupa. Ku
klik saja nama yang ada di pilihan pertama, karena memang aku masih berteman
dengannya. Loading, tak
berapa lama tampilan
profilpun tampak, dimulai dari foto profil, “mmm dia dan ceweknya” gumamku.
Entahlah takdir macam apa ini, kenapa kami dipertemukan kembali di saat
sekarang? Ya, Tuhan! Pertahanan ku ! Kuatkan pertahananku ! Tidak cukupkah aku
yang mengalah pindah dari kota kenangan itu? Dan sialnya kekasihmu bekerja satu
kantor denganku, aku tak mengenalnya dekat dan beruntung karirku masih jauh di
atasnya.